Korupsi

Bookmark this
February 17, 2020 By Esther Idayanti

Berita radio menyampaikan ada kepala daerah ditangkap karena korupsi. Ini kasus ke-119, dan mungkin masih banyak lagi yang belum tertangkap. Pendengar radio berkomentar agar hukuman perlu diperberat, contohnya hukuman mati bagi koruptor di atas jumlah tertentu. Itupun mungkin hanya mengurangi kasus, belum tentu memberantas seluruhnya. Indonesia berada di ranking 89 dari 175 negara menurut Corruption Perceptions Index 2018.

Banyak alasan mengapa seseorang korupsi. Menurut Kriminologis Dr. Elisabeth Grobler, Psikolog Dr. Giada Del Fabbro dan Alwyn Moerdyk salah satunya adalah tidak adanya empati, di mana orang tidak bisa merasakan bagaimana tindakannya membuat orang lain menderita. Selain itu juga sifat egois mementingkan diri, manipulasi, haus kekuasaan, dan kecenderungan menyalahkan orang lain.

Tetapi bila korupsi menjamur, mungkin penyebabnya adalah cara pandang atau nilai-nilai yang dianut sebuah bangsa. Di negara lain, koruptor yang tertangkap menundukkan kepalanya. Tetapi di Indonesia, mereka mengenakan jaket oranye, melambaikan tangan sambil tersenyum! Berarti korupsi bukan hal yang memalukan, melainkan hal yang biasa saja, hanya kebetulan ia tertangkap.

Mungkin di balik itu, nilai-nilai kita adalah “relatif” bukan “absolut.” Korupsi (atau mencuri milik orang lain) itu bisa saja dilakukan asal tujuannya baik. Bukan “mencuri itu dosa” atau “mencuri itu memalukan.” Menurut Del Fabbro, moralitas dan etika seseorang dibentuk oleh orangtua di rumah!

Pencegahan korupsi dimulai ketika orangtua bisa menerima bahwa nilai anaknya buruk tetapi hasil kerja sendiri, daripada nilai baik hasil mencontek. “Pokoknya lulus” akan diterjemahkan menjadi “Pokoknya sukses dan kaya.” Pencegahan korupsi bisa terjadi bila kita memiliki nilai-nilai yang absolut: baik vs buruk, bukan “tergantung situasinya.” Dan ini dimulai dari rumah. (Esther Idayanti)

KALAU SEBUAH NEGARA INGIN BEBAS KORUPSI, ADA TIGA ANGGOTA MASYARAKAT YANG DAPAT MEMBUAT PERUBAHAN: AYAH, IBU DAN GURU. (Abdul Kalam)

Written by

Esther Idayanti



 

Mengunduh Artikel

Anda dapat mengunduh artikel yang anda tulis disini untuk menjadi berkat bagi banyak orang. Tulisan anda harus sesuai dengan norma norma dengan ajaran Kristus.